OPINI

Menanamkan Sikap Toleransi Dalam Keluarga Untuk Menangkal Konflik Multikultural

Kamis, 22 Juni 2017 16:55:49
Menanamkan Sikap Toleransi Dalam Keluarga Untuk Menangkal Konflik Multikultural
Perbedaan itu adalah fitrah
 
Oleh:  Antoni, SPd
 
Indonesia terdiri dari beraneka ragam suku bangsa, agama, bahasa, ras, etnis, golongan, dan budaya atau lebih dikenal dengan istilah multikultural. Pada dasarnya multikultural merupakan suatu kekayaan bangsa. Namun disisi lain, keberagaman tersebut juga cenderung mengakibatkan terjadinya berbagai macam konflik. 
 
Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan negara dan Pancasila yang menjadi ideologi negara seolah-olah hanya sebagai sekedar semboyan dan simbol saja. Di era globalisasi saat ini nilai-nilai yang dianut oleh bangsa kita sepertinya telah mulai memudar tergerus oleh perkembangan zaman dan ideologi yang lain. Berbagai macam konflik yang sering terjadi saat ini sering berujung pada tindakan anarkis yang merugikan banyak pihak.
 
Kita mungkin menyaksikan atau mengalami bagaimana umat manusia menderita karena sikap diskriminatif dari lingkungan sosial, adat, budaya dan agama. Sesama yang berbeda agama dan keyakinan dilarang untuk mendirikan rumah ibadah dan beribadah. Komunitas-komunitas radikal suka merendahkan sesamanya. 
 
Semua peristiwa ini merupakan tragedi kemanusiaan yang merendahkan martabat manusia. Penderitaan yang dialami manusia ini, memperlihatkan kepada kita bahwa martabat manusia sedang tercabik karena sikap sombong manusia. Manusia kurang peduli pada sesamanya. Manusia tidak mampu menerima dan menghormati sesamanya. Status sosial, adat, budaya dan agama seringkali menjadi pemicu penderitaan manusia. 
 
Di antara sesama manusia saling curiga, prasangka buruk sehingga menimbulkan gejolak. Padahal, semuanya adalah manusia yang berakal budi dan berhati nurani. 
 
Beberapa contoh konflik besar dari multikulturalisme di Indonesia yang pernah terjadi antara lain; peristiwa pertarungan antara Bugis Buton - Makasar dan Ambon Islam melawan Kristen, peristiwa Sambas dan Palangkaraya (pertarungan Dayak, Melayu dan Tionghoa melawan Madura), perisitiwa Poso (pertarungan antara kelompok Islam dan Kristen yang disertai oleh unsur-unsur dari luar), peristiwa Sunbawa (NTT), perkelahian antara orang Sumbawa dan Bali, Peristiwa Aceh (pertarungan antara orang Aceh dan transmigrasi Jawa), peristiwa Separatisme Gerakan Aceh Merdeka dan Organisasi Papua Merdeka, dan banyak lagi yang lainnya.
 
Kejadian-kejadian tersebut hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua dan jangan sampai terulang kembali hendaknya dimasa yang akan datang.
 
Toleransi dianggap sebagai suatu solusi atas konflik yang sering terjadi saat ini. Sikap saling menghormati dan saling menghargai memang sangat diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Diperlukan rasa saling pengertian antar sesama agar tercipta komunikasi yang baik. 
 
Toleransi adalah penghormatan, penerimaan atau penghargaan tentang keragaman yang kaya akan kebudayaan dunia kita, bentuk ekspresi kita dan tata cara sebagai manusia. Hal itu dipelihara oleh pengetahuan, keterbukaan, komunikasi, dan kebebasan pemikiran, kata hati dan kepercayaan. Toleransi adalah harmoni dalam perbedaan (UNESCO APNIEVE, 2000: 54).
 
Lebih luas lagi, toleransi berarti menahan diri, bersikap sabar, membiarkan orang berpendapat lain, dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda. Toleransi sejati didasarkan sikap hormat terhadap martabat manusia, hati nurani, dan keyakinan, serta keikhlasan sesama apa pun agama, suku, golongan, ideologi atau pandangannya. 
 
Tuhan menciptakan manusia berbeda dan beragam. Perbedaan itu adalah anugerah yang harus kita syukuri karena dengan keragaman, kita menjadi bangsa yang besar dan arif dalam bertindak.
 
Sikap toleransi sangat penting ditanamkan pertama kali dalam lingkungan keluarga, karena kebiasaan yang telah dilakukan sesuai aturan yang dibuat oleh orangtuanya dirumah akan terbawa keluar rumah. Seseorang menjadi seperti apa pada masa depan, sangat ditentukan oleh pengalaman hidupnya dalam keluarga. 
 
Jika sejak dari rumah anak-anak sudah diajarkan untuk bersikap santun, menghormati agama yang berbeda dan mau menghargai pendapat berbeda dari orang lain atau tidak melihat perbedaan atas tradisi dan etnis seseorang  ketika ingin bersosialisasi,  maka sikap sikap tersebut tanpa disadarinya akan diterapkan dalam kehidupannya ditengah masyarakat secara permanen.
 
Psikolog anak Gordon Allport berpendapat anak-anak yang diamatinya lebih cenderung tumbuh toleran jika mereka tinggal di rumah yang mendukung dan penuh kasih. Paling tidak, ada empat cara mengajarkan toleransi kepada anak. 
 
Pertama, perkenalkan keragaman 
Orang tua bisa mulai dengan memberi pengertian bahwa ada beragam suku, agama, dan budaya. Beritahukan kepada buah hati, meskipun memiliki agama atau suku yang berbeda, manusia sebenarnya sama dan tidak boleh dibeda-bedakan. Memperkenalkan keragaman sedini mungkin nantinya bisa memupuk jiwa toleransi buah hati agar lebih memandang perbedaan yang ada secara lebih bijak.
 
Kedua, perbedaan bukan untuk menimbulkan kebencian
Ajarkan kepada buah hati bahwa perbedaan yang ada jangan disikapi dengan kebencian, karena kebencian akan membuat sedih dan menyakiti hati orang lain. Cobalah ajak buah hati untuk berandai-andai jika dia dibenci karena perbedaan, tentu akan merasa sedih. Dengan begitu dia lebih merasa empati dan bertoleransi dengan apa yang dirasakan orang lain
 
Ketiga, beri contoh
Jangan hanya memberi tahu lewat kata-kata, tetapi juga contoh nyata, jika bertemu seseorang menggunakan simbol agama yang cukup ekstrem, seseorang  atau yang memiliki warna kulit berbeda, jangan memandangnya dengan penuh keanehan, apalagi mengatakan sesuatu bernada kebencian dan ledekan. Ingatlah bahwa orang tua adalah contoh bagi buah hati. Bersikaplah seperti biasa dan jika buah hati bertanya, berikan penjelasan vang bijak.
 
Keempat, bertoleransi untuk kedamaian
Beritahukan kepada buah hati bahwa sikap toleransi itu sangat dibutuhkan. Jika tidak ada sikap toleransi, banyak orang yang akan bermusuhan dan saling membenci. Katakan juga kepadanya jika hal itu terjadi, dia tidak akan nyaman saat bersekolah ataupun bermain.
 
Perbedaan kita dengan orang lain tidak berarti bahwa orang lain lebih baik dari kita atau kita lebih baik dari orang lain. Baik dan buruknya penilaian orang lain kepada kita bukan karena warna, rupa, dan bentuk, melainkan karena baik dan buruknya kita dalam berperilaku. Perbedaan itu membuat kita menjadi unik. Perbedaan menjadi modal untuk merajut persaudaraan universal.    
 
Kita akan mampu hidup dalam perbedaan kalau kita mau menerima sesama sebagai adanya mereka. Kita tidak menuntut sesama harus sama seperti kita, sebab setiap pribadi manusia memiliki keunikannya sendiri. Kita perlu belajar menerima dan menghormati sesama agar suasana persaudaraan dan kekeluargaan dapat terjalin dengan baik. Dengan demikian, impian untuk hidup dalam suasana aman, damai dan sejahtera dapat tercapai. 
 
editor: asa

KOMENTAR