Bullets of Tasbih

Selasa, 29 Agustus 2017 17:37:19
Bullets of Tasbih
Oleh Saidul Tombang Kabut pekat. Malam tinggal seperempat. Mayoritas manusia bersidekap dalam bilik hangat. Apalagi gelap dan dingin jelang subuh ini membuat waktu membeku. Binatang malam pun sudi menempuh. Tapi di sini, di surau nan luas ini, udara makin panas. Berasap. Ada perang kuno yang terbentang. Perang paling kuno yang dikobarkan sejak jutaan tahun lalu. Perang yang ditabuh ketika Allah berseru supaya malaikat sujud kepada Adam, namun sebagian barisan yang dipimpin iblis membangkang. Mereka menyatakan perang. Maka perang itulah yang terhidang hingga sekarang. Di surau yang lapang ini desing peluru menyambar-nyambar. Para tentara Allah mengintai dan menembak musuh dengan sabar. Pusingan tasbih di jari seperti peluru senapan mesin. Berputar cepat ketika tiap bijih pelurunya dimuntahkan. Bijih-bijih tasbih itulah yang menembak dada dan kepala iblis. Coba lihat, lelaki ringkih di balik kelambu, yang menarik pelatuk tasbih itu, terus menerus tanpa henti menembak musuh utama manusia itu. Dia fana dalam pusingan tasbihnya. Perang melawan iblis adalah perang paling kuno. Perang paling epik. Paling heroik. Iblis bersumpah tak akan menyerah hingga akhirat tiba. Manusia pun disuruh Allah waspada supaya tidak berbondong-bondong dengan iblis di neraka. Iblis punya dendam kesumat serta muslihat. Tapi manusia punya gudang dan amunisi iman dan rasa bangga memiliki Tuhan. Perang di ujung malam itu memang luar biasa. Puluhan senapan mesin berpeluru bijih tasbih menghunjam dan menusuk tikam. Puluhan manusia shaleh, dari balik kelambu yang sempit, tak henti-hentinya mengarahkan moncong senapan kepada iblis laknatullah. Untaian kalimat tauhid laa ilaaha illallah menerbangkan bullets of tasbih secara salvo. Musuh pun satu per satu terbakar. Terkapar. Terpapar. Penghujung malam memang waktu terbaik membunuh iblis laknatullah. Selepas tahajud, putarlah tasbihmu, agungkan kalimat Allah, yakinkan kalimat tauhid bersemayam di hatimu. Niscaya iblis tak berani menyerang benteng dan kerajaanmu. Perang ini tak akan pernah usai. Bahkan hingga ruhmu sudah sampai di gharghara, cekung kecil di bawah jakunmu, iblis tetap akan menyerangmu. Sebelum kamu diserang, yakinkan baju zirahmu adalah kalimat tauhid. Pekik komandomu adalah kalimat tauhid. Insya Allah pusingan tasbihmu akan menjadi mesin perang pembantai musuhmu tanpa ampun.*** #daribalikkelambuyang pengap

KOMENTAR