Di Sini Kami Terseri

Sabtu, 16 September 2017 10:24:02
Di Sini Kami Terseri
Saidul Tombang bersama Ustadz Abdul Somad dan Buya Muhammad Abdih

 

Oleh Saidul Tombang

 

Kamis, 14 September 2017, adalah hari paling epik bagi saya. Terus terang saya gamang, serasa terbang. Dada ini sebak. Hati pun terasa sesak. Kehadiran saya di panggung Pondok Pesantren Islamic Center Alhidayah Kampar ini, di depan ribuan jamaah, di depan buya yang merupakan anak buya yang mengajar saya, di depan guru masa lalu, tentulah ini membawa saya dalam gagu, penuh rasa malu.

 

Setelah 20 tahun, memang inilah kali pertama saya naik panggung di sini. Di depan orang-orang yang sebagiannya adalah masa lalu saya. Walaupun sebagiannya lagi tentulah akan menjadi masa depan saya, tetap saja sejarah 30 tahun lalu tak bisa saya lupa. Bagaimana dulu, seorang Saidul kecil, tahun 1987, hadir di sekolah ini. Lelaki kecil yang sangat unyil. Yang sekolah kadang tak pakai terompah, yang masak nasi di kompor minyak tanah kadang tak matang. Yang sekolah tak pernah ragu walau tak pernah ada uang di saku.

 

Kini, saya hadir di sini. Kembali setelah lama pergi. Tapi bagi saya, yang berdiri di panggung ini adalah saya yang lama juga. Saya yang masih suka mewek. Yang suka grogi kalau dipandangi. Saya adalah orang yang paling menggeletar bila disebut nama sekolah ini. Bahkan, dalam sambutan, saya hampir tak menyelesaikan kata ketika menyebut nama sekolah ini karena tiba-tiba sebak merebak dan menyebabkan lidah ini susah berucap.

 

Pondok pesantren ini bagi saya adalah candradimuka. Di sinilah pondasi itu dibangun. Di sinilah saya terseri. Tujuh tahun di sini, yang setiap waktu hanya makan dengan sambal keripik ubi dengan campuran sedikit ikan teri, adalah histori yang selalu fana di sanubari. Ketika harus bangun sebelum pagi, ketika harus membaca kitab tak berbaris, ketika sama-sama kawan di asrama yang kehidupannya sungguh menusuk hati. Asrama papan, susah makan, mandi di lekuk-lekuk air keruh, dan shalawat di kala subuh yang selalu bergemuruh.

 

Saya cinta dengan pondok ini. Keluarga saya juga. Saya, adik saya Sahrul Tombang, Mursyida, dan Mawardi Tombang adalah empat dari tujuh bersaudara yang menghabiskan tujuh tahun bersekolah di sini. Bahkan saking cintanya dengan pondok ini, saya pun menemukan sang belahan hati pujaan jiwa dan kemudian menjadi istri setia di sini.

 

Maka jangan tanya lagi betapa saya mérindukan suasana ini. Ini adalah rindu tak bertepi. Rindu ingin seperti dulu lagi.

 

Terima kasih kepada seluruh pimpinan pondok, majelis guru, santri dan santriwati, alumni, dan masyarakat sekitar. Terima kasih sudah memberi laluan kepada perusahaan kami, Inforiau, untuk meraikan ulang tahun yang ketiga di sini. Semoga seluruh amal Bapak dan Ibu semua dibalas dengan pahala oleh Allah SWT. Amin...***

KOMENTAR