Tertipu Zikir Tong Kosong

Senin, 18 September 2017 07:38:09
Tertipu Zikir Tong Kosong

Oleh Saidul Tombang

Pernahkah Anda lupa kepada Allah SWT? Maaf jangan ada yang tersinggung. Baik, saya tukar pertanyaannya kalau Anda memang tidak nyaman dengan pertanyaan itu; pernahkah Anda ingat kepada Allah? Waduh, tambah tak nyaman ya? Ya sudah lanjut saja walau ini memang tak mengena di hati.

Semua kita tentu pernah ingat kepada Allah, zat yang menciptakan, yang memelihara, dan mengendalikan kehidupan. Tapi kuantitas lupa dan ingat kepada Allah setiap orang pastilah berbeda. Ada yang tak ingat sama sekali, atau tak mengenal zat yang menciptakannya. Ada yang mengingat Allah bila-bila perlu. Kalau sudah sakit, kalau kemalangan, kalau sedang susah, dan beragam jenis musibah lainnya. Namun ada pula yang mengingat Allah setiap waktu. Tanpa lepas. Tanpa jeda. Dalam setiap arus nafasnya selalu tercium 'nafas' Allah. Dalam setiap aliran darahnya selalu mengalir 'darah' Allah. Dalam setiap gerakan panca inderanya selalu terlihat 'gerakan' Allah. Detak jantungnya, naik-turun nafasnya selalu berisi kalimat Allah. Ini yang selalu disebut ad daaim, terus menerus.

Orang yang mempunyai kemampuan mengingat Allah dengan baik akan berada pada suasana dan tingkatan yang paling baik. Lidahnya akan berkata yang baik, matanya hanya akan melihat yang baik, kaki dan tangannya hanya akan melangkah ke tempat yang baik. Mengapa? Dia tahu ada Allah di sekelilingnya. Allah bersamanya dimanapun dia berada. Wallaahu maakum ainamaa kuntum. Dia bersama Allah dimanapun berada. Hatinya tenang. Hatinya sampai pada level comfort. Alaa bidzikrillaahi tathmainnal quluub. Sungguh dengan mengingat Allah akan menenteramkan hati.

Mengingat Allah bukan perkara mudah. Tersebab buahnya manis dan mengenyangkan, maka proses mengingat Allah pun panjang dan butuh perjuangan. Tak semua orang bisa mengingat Allah. Tak semua tempat dan masa bisa dijadikan wasilah untuk mengingat Allah. Bahkan, seorang sufi yang berdiam diri di kesunyian pun belum tentu bisa mengingat Allah dengan kualitas yang baik di dalam zikir-zikir panjangnya itu.

Di dalam ajaran sufi, mereka memang diajarkan bagaimana bisa selalu dekat dengan Allah. Ada rambu-rambu serta petunjuk menuju Allah Berbagai zikir dilantunkan. Waktu mustajab diintai. Diikuti dengan adab-adab yang mengikat. Di dalam ajaran thariqat, haqiqat, makrifat, seseorang bahkan diberikan beban untuk berzikir hingga ratusan ribu kali untuk membiasakan diri mengingat Allah.

Tapi tetap saja dapat bersebati dengan Allah bukanlah hal yang mudah. Berpuluh laksa zikir yang dilafalkan terkadang hanyalah kandik-kandik kosong. Dia hanya terucap di bibir tapi tak mengena di hati. Dia hanya geleng-geleng kepala tapi tak sampai pada tujuan. Maka orang seperti ini seperti sangkar tak berisi burung. Seperti membayar utang tapi tak lunas.

Tapi, jangan putus asa. Selalu ada cara untuk dapat bersebati dengan Allah. Latihan mengingat Allah dengan mengetahui sifat dan af'al Allah akan lebih memudahkan kita untuk dapat mengingatnya dengan baik. Latihan-latihan yang diajarkan, adab yang diikatkan, waktu-waktu yabg ditunjukkan, tempat-tempat yang dianjurkan, akan memberi lampu penerang bagi seseorang untuk bertemu dengan Allah. Itu pula hakikatnya orang bersuluk. Itu pula hakikatbya orang memiliki mursyid. Kita akan lebih tertuntun mengenalnya lebih baik.

Mengingat Allah tidak bisa sekali jadi. Perlu ketekunan dan konsistensi. Perlu berguru dan menuntut ilmu. Perlu latihan setiap waktu supaya dapat mendudukkan sirih ke gagangnya, pinang ke tampuknya. Dengan selalu menjadikan namanya sebagai nafas, sebagai aliran darah, sebagai detak jantung, maka Allah akan lebih mudah dikenali dan kita akan semakin dekat dengannya.

Teruslah berzikir. Teruslah menyebut namanya. Seperti pemecah batu di tepian Sungai Kampar, teruslah memukul. Karena kita tidak tahu pada pukulan ke berapa batunya pecah. Teruslah berzikir karena kita tidak tahu pada zikir yang mana kandik-kandik itu akan berisi.

Mengingat Allah harus dilakukan selalu dan selalu. Bila kita selalu ingat Dia semoga Dia juga ingat dengan kita.***

KOMENTAR