Budaya Melayu

CEO Inforiau Ikuti Perjalanan Budaya Melayu Asia Tenggara

Kamis, 21 September 2017 20:01:50
CEO Inforiau Ikuti Perjalanan Budaya Melayu Asia Tenggara
Rombongan Budayawan Melayu foto bersama sesaat sebelum keberangkatan, Kamis (21-09-2017) sore.
Pekanbaru, Inforiau.co - CEO dan juga Pemimpin Redaksi Inforiau, Saidul Tombang, beserta sembilan sastrawan dua negara, Indonesia dan Singapura yang tergabung dalam rombongan Ziarah Budaya Melayu Champa-Vietnam, mulai hari ini, Kamis (21/9) memulai perjalanan budaya ke negara Vietnam.
 
Perjalanan budaya ini dimaksudkan untuk mencari jejak-jejak budaya Melayu di negeri Champa yang sekarang telah berubah nama menjadi Vietnam. Diyakini oleh sejarawan Melayu bahwa negeri Vietnam dahulunya dikuasai oleh orang-orang Melayu Champa sebelum kedatangan bangsa Viet. 
 
 
10 orang rombongan tersebut yaitu 6 budayawan Riau yaitu Husnu Abadi, Saidul Tombang, Tien Marni, Fakhrunnas MA Jabbar, Mosthamir Thalib, dan Hening Wicara. Sementara dari Singapura yaitu Anie Din dan suami, dan satu dari budayawan Melayu Vietnam sendiri yaitu Nik Mansour.
 
Kegiatan yang digagas oleh Komunitas Bebas Melata "Tanah Merah" ini saban tahun dilakukan untuk menghidupkan semangat pengembangan sastra Melayu di Asia Tenggara. Komunitas ini dikoordinatori oleh novelis Singapura, Anie Din yang berkorban menggelar pertemuan sastra tahunan itu. 
 
Pemred Inforiau, Saidul Tombang, merasa mendapat kehormatan diundang sebagai budayawan serantau untuk melakukan perjalanan budaya ini. Dia berharap dapat memberi sumbangsih pikiran dan tulisan dalam pengembangan dan mempertahankan entitas budaya Melayu di Asia Tenggara yang semakin hari semakin tenggelam oleh budaya asing lainnya. 
 
"Asia Tenggara ini adalah tanah Melayu. Namun akhir-akhir ini entitas Melayu semakin hilang ditelan zaman. Dengan adanya perjalanan budaya ini, kita berharap budaya Melayu di Asia Tenggara khususnya di Negara Vietnam dapat kembali diangkat. Dan saya terharu mendapat undangan kehormatan ini," ujar Saidul. 
 
 
Saidul menambahkan, sebagai generasi masa depan negeri Melayu, sudah menjadi kewajibannya untuk mempertahankan budaya Melayu di Asia Tenggara. Untuk mempertahankan budaya Melayu, dapat dilakukan oleh kelompok sastra-sastra Melayu yang tersebar di penjuru Asia Tenggara. Sudah menjadi kewajiban para sastrawan mengejawantahkan budaya Melayu dalam bentuk tulisan yang kelak menjadi pegangan dan pedoman anak muda Melayu. 
 
"Budaya Melayu perlahan redup, dikalahkan oleh berbagai budaya asing maupun dipinggirkan oleh modernisasi peradaban. Jika semua ini tidak dipertahankan dan ditumbuhkan semangat bersama, bukan tidak mungkin, nama Melayu ini akan menjadi kenangan. Seperti banyak anak remaja kita tidak mengetahui bahwa negara-negara Asia Tenggara ini semuanya adalah tanah Melayu. Itu jadi kewajiban kita bersama untuk mempertahankannya," kata Saidul menambahkan.
 
Saidul menyebut kegiatan ini akan dilaksanakan beberapa hari, pertama kali akan berkumpul di Singapura, dilanjutkan perjalanan ke Panduranga (Provinsi Ninh Thuan). Selanjutnya perjalanan menuju ke berbagai situs budaya. mt
 
 
editor : asa

KOMENTAR