Oleh Saidul Tombang

Vietnam yang Melepaskan Borgol Masa Lalu...

Selasa, 03 Oktober 2017 18:02:19
Vietnam yang Melepaskan Borgol Masa Lalu...
Sulthan Umdatuddin, Raja Champa di masa keemasannya. Kini makamnya berada di situs candi dan disembah umat mereka.

*Catatan Perjalan ke Negeri Komunis Vietnam

 

Pantai Phang Rang berada di garis teluk yang panjang. Ombaknya hanya cukup untuk bermain anak-anak dan lautnya yang bersih untuk keluarga bermandi ria. Tapi di sini tidaklah seramai Pantai Kuta, bahkan tidak seramai Pantai Padang. Pagi dan petang yang saya habiskan di pantai ini benar-benar hanya menjadi ruang tersekat; seperti tertutup dari pengunjung luar. Hanya ada keluarga-keluarga Vietnam, dan kami.

Vietnam memang baru belajar membuka diri. Baru empat tahun terakhir mereka memberi ruang bagi orang luar untuk berkunjung, terutama mengunjungi situs-situs Melayu dan Islam. Itupun setelah Unesco, salah satu badan di PBB, yang menetapkan beberapa situs tersebut sebagai warisan dunia. Sejak dulu, Vietnam memang lebih suka dengan kehidupan mereka yang tertutup itu. Semakin sedikit dunia luar yang tahu semakin baik bagi mereka.

Mengapa? Jawabannya mudah diterka. Mereka punya cacat sejarah yang coba ditutupi. Terutama tentang Islam dan Melayu. Tentang jejak sejarah Islam dan Melayu yang pernah diukir di sana. Tentang kemerdekaan Islam dan Melayu dalam beribadah. Dan lainnya.

Karena masih baru memulai hidup terbuka, saya melihat pemerintah dan stake holder di Vietnam masih gagap dan gagu menghadapinya. Mereka belum cair ketika harus dikunjungi, ditanyai, apalagi dikritisi. Mereka belum benar-benar siap hidup lepas, terutama kepada dunia luar yang luas.

Pada prinsipnya pemerintah Vietnam sedang ingin bersikap ramah. Mereka ingin menunjukkan kepada dunia bahwa me?eka adalah tuan rumah yang baik. Namun pada kenyataannya, sekali lagi, mereka masih terjerat pada masa lalu yang tersekat. Apalagi, keterbukaan kepada dunia luar ternyata juga mengandung risiko besar bagi mereka. Karena saat ini dunia luar agak lebih mudah mengetahui isi dapur Vietnam, terutama tentang sejarahnya dan apa yang berlaku saat ini.

Keterbukaan Vietnam hari ini memang membuka ruang dan nafas baru bagi Melayu dan Islam. Bagaimana tidak, masa lalu Vietnam separuhnya adalah legenda Melayu dan Islam. Saat ini umat Islam mulai agak leluasa beribadah. Sudah boleh adzan memakai mikrofon. Sudah boleh ada yang berdakwah. Sudah boleh mendirikan madrasah. Bahkan, sudah boleh mendirikan pondok tahfidz Alquran. Walaupun, itu semuanya masih dalam pengawasan yang sangat ketat, jumlah yang sangat sedikit, dan penyusupan (cladenstein) di berbagai komunitas dan tempat oleh kaum komunis.

Di Paduranga, pusat kejayaan Kerajaan Champa, yang merupakan satu-satunya tempat perkebunan anggur di Vietnam, kini memang berdiri empat buah masjid. Namun di tiap masjid itu ada beberapa 'jamaah' bahkan 'ustadz' yang berprofesi ganda. Sebagai mata-mata. Walau umat Islam boleh beribadah, tapi imam masjid dalam pengawasan ketat pemerintah. Bahkan sangat sering terjadi imam masjid dipanggil polisi hanya untuk menjelaskan aktivitas di masjid. Seperti kedatangan kami pagi itu, sang imam mewanti-wanti supaya tidak berbicara kepada sembarangan orang, tidak menceritakan soal Kerajaan Champa, jangan bertanya soal kebebasan beragama, apalagi menyebut kata komunis. Dan juga tidak memberi jejak; seperti nomor handphone, akun media sosial, pekerjaan, apalagi hal-hal yang sensitif.

"Walaupun tidak bicara soal intimidasi, setelah Anda pulang saya pasti tetap akan dipanggil. Tapi saya yakin Allah akan melindungi saya," kata sang imam

Saya tetap mensupport upaya Vietnam semakin terbuka dengan dunia luar. Karena saya yakin, keterbukaan itu akan membuka mata kita tentang masa lalu. Akan semakin banyak sejarah yang terkuak. Akan lebih mudah mengakses kehidupan sosial dan agama. Dan tentu saja sembari menolong saudara muslim kita di sana yang selama ini hidup di bawah intimidasi komunis.

Saya yakin, Vietnam akan terbiasa dengan dunia di luar mereka.(bersambung)***

#rindunegerichampa

KOMENTAR