Oleh Saidul Tombang *Jurnalis dan Kolumnis

Para Pejuang Berjubah Panjang

Minggu, 24 Desember 2017 22:11:48
Para Pejuang Berjubah Panjang
Padang, Inforiau.co - Negeri ini tidak hanya dibangun pejuang bertampang garang. Sejarah sudah mencatat, mayoritas pejuang itu membangun Indonesia melalui untaian zikir malam dan percikan darah yang membasuh jubah mereka yang panjang. Pekikan Allahu akbar di medan perang selalu membangkitkan semangat juang. Ratib laa ilaaha illallaah di ujung malamnya melembutkan hati pasukannya.
 
Pada pagi jelang siang itu, Batang Sosa nampak garang; meruap dan meluap, menghanyutkan ribuan ton kapar, mengisi suak dan luhak, mengilir tebing, nampak makin garang di beting.
 
Kami, tim ekspedisi Inforiau Tigo Banak Jelajah Sumatera, singgah di Batang Sosa, tepatnya di tepian Benteng Tujuh Lapis Kecamatan Tambusai, Rokan Hulu. Nampak luapan Batang Sosa mengiliri tebing benteng. Hujan tiga hari terakhir ini membuat sungai yang juga membelah Kota Pasir Pengaraian itu banjir lumayan besar.
 
Batang Sosa dan Benteng Tujuh Lapis kuat kaitannya dengan nama Tuanku Tambusai, pahlawan nasional dari Riau. Benteng ini adalah pertahanan yang tangguh, sulit ditundukkan musuh. Sedangkan Batang Sosa adalah jalur pelarian Tuanku Tambusai setelah lama terkepung dan menolak menyerah kepada Belanda. Melalui jalur sungai inilah Tuanku Tambusai menghilir hingga ke Malaysia dan wafat di sana.
 
Tuanku Tambusai adalah pejuang Indonesia berjubah dalam. Gelar Tuanku di depan namanya sudah cukup menunjukkan bahwa dia adalah orang surau. Orang thariqat. Orang yang sudah lama belajar dan mengamalkan ilmu makrifat. Orang yang tafakkur dan selalu mengkaji diri.
 
Teman seperjuangan beliau adalah Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Rao dari Sumatera Barat, juga orang-orang yang mendapat gelar Tuanku dari tuan guru pendahulunya. Di belahan bumi lain ada banyak orang-orang produk surau, yang menjalani tirakat pada malam-malam sunyi dan memgangkat pedang bila siang datang. Sebut saja Pangeran Diponegoro yang pada saat kematiannya hanya mewariskan jubah, pedang, dan tasbihnya. Bahkan salah seorang proklamator Indonesia, Muhammad Hatta adalah putra tuan guru thariqat di Sumatera Barat.
 
Para pejuang berjubah panjang adalah pagar negeri. Bukan hanya memagari secara syariat; dengan pedangnya. Tapi juga memagari dengan hakikat; dengan doa dan tasbih panjangnya.
 
Dan di sini, di Benteng Tujuh Lapis yang mulai terkikis, saya belajar banyak pada sejarah bahwa orang surau; orang yang meratap diri pada malam sepinya dan mengacungkan keris pada siang gaharnya, adalah sunnatullah yang harus dijalani.
 
Di Benteng Tujuh Lapis Batang Sosa ini saya juga belajar bahwa ketamakan manusia akan meruntuhkan imannya, meruntuhkan kehormatannya, meruntuhkam bangsanya.
 
Oh ya, Benyeng Tujuh Lapis adalah salah satu benteng pribumi yang teramat sulit ditundukkan Belanda. Selain bentengnya yang tinggi dan berlapis tujuh, di sana juga ditanami bambu sangat rapat. Namun penjajah Belanda cerdik, dia tembakkan uang emas ke rerimbun bambu. Keserakahan manusia ketika itu mengundang mereka untuk membabat bambu, meruntuhkan benteng sendiri, meruntuhkan iman sendiri.Ir
 

KOMENTAR