Raja Abdullah, Sang Reformis dari Timur Tengah

Jumat, 23 Januari 2015 11:25:27
Raja Abdullah, Sang Reformis dari Timur Tengah
Raja Arab Saudi Abdullah
RIYADH, inforiau - Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz, sekutu kuat Amerika Serikat (AS) yang berusaha untuk memodernisasi kerajaan Muslim ultrakonservatif dengan reformasi signifikan tersebut dilaporkan meninggal pada usia 90 tahun. 
 
Abdullah yang lahir di Nejd, Riyadh akan berusia 91 tahun 1 Agustus 2015 mendatang.
 
Daily Mail, Jumat (23/1) melaporkan, pihak Kerajaan Arab Saudi yang berada di rumah sakit mengkonfirmasi kematian Raja Abdullah yang dirawat di King Abdulaziz Medical City sejak Desember lalu.
 
Raja Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud (1924-2015) akan dikenang sebagai sosok pemimpin reformis dalam sejarah panjang kerajaan Arab Saudi.
 
Di antara kontribusi terbesar Raja Abdullah adalah keputusannya mengubah mekanisme suksesi kepemimpinan pada 2007 dengan membentuk Dewan Kerajaan Hay'at al-Bay'ah yang berwenang menentukan suksesi kepemimpinan di Kerajaan Arab Saudi. Keputusan ini diambil hanya setahun setelah dia resmi diangkat menjadi raja Arab Saudi.
 
Demikian disampaikan oleh Dr Joseph A Kechichian, peneliti senior King Faisal Center di Riyadh, Saudi Arabia, seperti dikutip okezone dari Aljazeera, Jumat (23/1/2015). “Beliau ingin Arab Saudi dikenal karena penduduknya, bukan karena minyaknya,” tegas Dr Joseph.
 
Sejak 1982 sampai 2005, Abdullah menjadi putra mahkota dari saudaranya, Raja Fahd bin Abdul Aziz. Namun, sejak 1995 dia menjadi raja de facto karena Raja Fahd menderita stroke. 
 
Saat naik tahta pada 2006, Raja Abdullah menunjuk saudaranya Sultan sebagai putra mahkota, meski dia sudah meninggal dunia pada Oktober 2011. Abdullah lantas menunjuk saudaranya yang lain, Nayef bin Abdul Aziz, sebagai putra mahkota. Namun, sang pewaris tahta meninggal dunia pada Juni 2012. Sehingga akhirnya Pangeran Salman diangkat menjadi putra mahkota.
 
Segera setelah resmi dilantik menjadi raja, Abdullah langsung melancarkan agenda reformasi yang meliputi liberalisasi sosial dan ekonomi. Salah satu warisannya adalah penunjukan 30 wanita menjadi bagian dari Majlis al-Shura pada 2011.
 
Abdullah juga menjadi raja pertama yang mau mengunjungi perumahan kumuh di Riyadh pada tahun 2005. Dia pun menyaksikan kehidupan warga miskin di sana. Dia lantas bersumpah akan mengentaskan kemiskinan yang masih melanda sebagian warganya.
 
Yang mengejutkan lagi, medio tahun 2010, Abdullah dan pangeran penerusnya, Sultan berfoto bersama di sebuah ruangan bersama para perempuan yang tidak mengenakan hijab. Foto tersebut bahkan menjadi halaman muka semua media massa di Saudi.
 
Meski di foto tersebut para perempuan mengenakan pakaian abaya, namun disana amatlah tabu ada pose lelaki dan perempuan yang bukan muhrim berfoto bersama dalam satu ruangan. Apalagi para perempuan yang diketahui sebagai peserta konferensi kesehatan di Najran itu tak berhijab.
 
“Foto tersebut menggambarkan sebuah ide reformasi aturan negara yang kemudian bisa ditiru oleh semua kalangan di Saudi,” tutur Kechichian.
 
Dugaan Dr Joseph A Kechichian tersebut terbukti. Selang setahun lalu, Sheikh Ahmad al-Ghamidi, pemimpin Komisi Kebajikan dan Pencegahan (Mutawa'in) berani tampil di sebuah stasiun televisi Saudi didampingi sang istri yang tidak mengenakan hijab. Bahkan terlihat jelas rambut dan kuku sang istri yang diwarnai merah.
 
Di bidang pendidikan, kerajaan Saudi mendirikan Abdullah University for Science and Technology (KAUST) medio September 2009. Saat itu, estimasi dana pembangunannya mencapai USD10 miliar atau sekira Rp100 triliun.
 
Selain dikenal sebagai pusat studi Iptek, kampus ini sarat terlihat ide reformasi ala Raja Abdullah. Tidak ada pembatasan interaksi antara mahasiswa dan mahasiswinya. Bahkan mahasiswi diperbolehkan memakai pakaian sopan, tanpa mewajibkan abaya dan hijab seperti kampus di Saudi lainnya.
 
Kata feodalisme mungkin telah menghilang dari pemikiran raja Abdullah. Selain beragam kebijakan tadi, ia juga ingin menggantikan komisi fatwa yang selalu menjadi rujukannya dengan sebuah lembaga pengadilan tinggi hukum formal. Alasannya, ia menginginkan sebuah standar penerapan hukum yang lebih akuntabel dan transparan.
 
Sebagai realisasinya, Raja Abdullah menyisihkan lebih dari jutaan miliar riyal dari anggaran kerajaan pada tahun 2011. Semuanya demi mewujudkan kondisi perekonomian warganya yang lebih baik. termasuk memberi uang kompensasi bagi para lulusan baru yang tengah mencari pekerjaan. Ia juga menaikkan gaji para pegawai kerajaan, tentara, pengajar, dan kalangan birokrat.
 
Di sektor swasta, ia mengeluarkan kebijakan pemberian insentif bagi para pelaku bisnis agar perekonomian lebih berimbang.
 
Dalam urusan penanaman rasa nasionalisme, Raja Abdullah sangat mewanti-wanti rakyatnya agar selalu membela warga Palestina dan Lebanon yang mencari kedamaian di tengah negaranya yang berkonflik. Ia selalu menekankan bahwa umat Muslim mempunyai rasa toleransi tinggi dan menghapus anggapan yang salah kalangan Barat terhadap Muslim.
 
Sebagai seorang ayah lebih dari 16 orang anak, Raja Abdullah telah mempersiapkan empat di antaranya sebagai pengganti. Seperti Mit'ab, yang menjadi Menteri Keamanan Nasional Arab Saudi sejak 27 Mei 2013. Ada pula Misha'al, yang menjadi Gubernur Provinsi Najran sejak 2009-2013 dan kini menjadi Gubernur Mekkah.
 
Putra lainnya, Abdul Aziz,menjadi deputi kementerian luar negeri Arab Sadui sejak tahun 2011. Tak lupa Turki bin Abdullah, yang menjadi Gubernur Riyadh sejak Mei 2014. Kekayaan Abdullah yang mencapai USD18 miliar menjadikannya sebagai pemimpin ketiga terkaya di dunia.OKZ

KOMENTAR